Home Indonesia Bangga Nancy Go: Tas merk Bagteria Bikinannya, Diburu Artis Hollywood

MultiTrans

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday368
mod_vvisit_counterYesterday739
mod_vvisit_counterThis week14173
mod_vvisit_counterLast week4651
mod_vvisit_counterThis month26385
mod_vvisit_counterLast month19197
mod_vvisit_counterAll days3689451

We have: 11 guests online
Your IP: 54.227.171.163
 , 
Today: Oct 24, 2014

AddThis

AddThis Social Bookmark Button

Alexa stats and google pagerank

Facebook LikeBox



Pesan Admin

 

Untuk sahabat IndonesiaBangga,apabila anda suka situs ini jangan lupa "like" Fans Page Facebook kami ya!

ttd.Hartono Benny Hidayat

 



Nancy Go: Tas merk Bagteria Bikinannya, Diburu Artis Hollywood PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 05 March 2012 13:25

www.indonesiabangga.com Di halaman majalah mode, sejumlah paparazi berhasil membidik Paris Hilton, Emma Thompson, Anggun, dan putri Zara Phillips, cucu Ratu Elizabeth II, tengah menenteng tas bermerek Bagteria. Mereka menganggap tas Bagteria memiliki model yang elegan, klasik, dan punya kualitas produk yang top markotop. Atas nama sebuah keanggunan, Nancy Go, sang desainer, merajut butiran kristal Swarovski agar tas-tas itu terkesan makin mewah. Di Eropa dan Amerika, merek Bagteria sepadan dengan Louis Vuitton, Chanel, atau Christian Lacroix. Tapi, siapa sangka, tas Bagteria yang sudah mewabah di 30 negara ini, adalah produk asli Indonesia.


Nancy memang pandai memainkan citra produk. Ia dan suaminya, Bert Ng, memilih nama merek “Bagteria” yang terkesan global dan mengandung unsur humor. “Mudah-mudahan Bagteria seperti bakteri yang mewabah,” celutuk Nancy. Mereka berdua merintis PT Metamorfosa Abadi, payung hukum Bagteria, dengan modal Rp300 juta, pada Mei 2000. Mereka merintis workshop pembuatan tas dengan menyewa sebuah rumah, yang letaknya persis di depan kediaman keluarga Ng di kawasan Jakarta Barat. Waktu itu, mereka mempekerjaan lima karyawan.

Sejak awal, Nancy dan Bert memosisikan Bagteria sebagai produk ekspor. Sebagai langkah awal, mereka membidik Hongkong. “Hongkong adalah kiblat mode Asia,” kata Nancy. Sialnya, saat itu, mereka tak memiliki akses untuk menembus pasar negara lain. Akhirnya, Nancy dan Bert membuat daftar butik mana saja yang kira-kira bisa “dititipi” tas Bagteria. Setelah mempelajari secara detail prospek pemasaran Bagteria, mereka memutuskan untuk berbisnis dengan konsep waralaba. Di tiap negara, mereka memilih satu distributor sebagai master franchise untuk menyebarkan Bagteria ke butik pilihan. Namun, perempuan kelahiran Brasil, 1963 ini mengecualikan Taiwan. Khusus untuk negara tersebut, Nancy melakukan bisnis secara kemitraan.

Setelah sukses di Hongkong, PT Metamorfosa Abadi mulai kebanjiran order. Pada 2003, mereka menjajaki untuk menembus pasar Jepang, yang terkenal sulit ditembus eksportir baru. Sebab, importir Jepang terkenal saklek. “Sekali mengecewakan mereka, jangan harap mendapatkan order lagi,” kata Bert. Sedari awal, Nancy dan Bert sepakat bahwa konsistensi kualitas produk adalah hal paling penting agar bisa diterima di pasar global. Kini, Jepang merupakan salah satu negara dengan permintaan tas Bagteria tertinggi, di antara negara-negara Asia lainnya.


Tas Berhias Gading Mammoth

Mengusung nama Indonesia ke pentas dunia memang gampang-gampang susah. Di awal kiprah Bagteria, ada agensi yang menganjurkan Nancy dan Bert untuk mengubah merek agar terdengar lebih Italia dan mendaftarkan merek di negeri Pizza tersebut. Tapi, keduanya bersikukuh untuk tetap memakai nama Bagteria dan mendaftarkan merek di Indonesia.

Selain itu, Nancy mengeluh masih banyak konsumen yang melihat produk Indonesia sebagai produk kelas dua. Pada suatu ketika, cerita Nancy, ada orang Korea yang berminat memasarkan Bagteria di butiknya. Si orang Korea ini mengira kalau Bagteria berasal dari Italia. Tapi, begitu ia tahu Bagteria buatan Indonesia, ia langsung menawar dengan harga murah. Kontan, Nancy berang. “Nggak fair dong. Selama ini dia mau saja membeli Bagteria dengan harga tinggi di Milan. Tapi, begitu tahu bahwa produk ini dari Indonesia langsung meminta setengah harga,” keluh alumnus Bunka School of Fashion, Jepang dan Akademi Kesenian Jakarta ini.

Setelah menjelaskan alasan mengapa Bagteria dipatok dengan harga tinggi, si orang Korea ini akhirnya mau membeli dengan harga normal. Bahkan, ia menjadi pelanggan setia Bagteria. Di Indonesia, Nancy membanderol Bagteria dengan harga antara Rp2,5 juta hingga Rp9 juta. Tentu saja, harga itu melambung hingga tiga kali lipat kalau dijual di luar negeri.

Sebagai pemain baru, Nancy mengaku sering mendapatkan order dari berbagai pameran berskala internasional yang diikutinya. Tapi, pengalaman mengikuti pameran di Fashion Week di AS beberapa saat lalu selalu membekas di benak Nancy. Sebab, waktu itu, salah satu bintang Hollywood, Paris Hilton kepincut dengan tas rancangan Nancy. “Waktu itu, Paris menyukai tas yang kami pajang. Oleh karena belum ada cadangan produksi, Paris rela membeli tas display. Tapi akhirnya kami berikan saja tas itu ke dia, itung-itung sebagai perkenalan,” ungkap Bert.

Meski Paris Hilton sering tertangkap kamera tengah menenteng tas Bagteria, Nancy mengelak jika Paris adalah ikon Bagteria. “Keterlibatannya itu murni karena ketidaksengajaan,” tegas ibu dari Brendan, Brenda dan Bryna Ng ini.

Agar desain Bagteria tak kalah dengan merek karya desainer asing, Nancy mengaku sering mendapatkan inspirasi dari melihat foto-foto jadul yang merekam karya-karya klasik. “Itu yang membuat Bagteria terkesan vintage dan evergreen. Serta bisa diwariskan dari nenek ke cucu tanpa harus takut modelnya ketinggalan zaman,” tutur Nancy.

Selain itu, ia juga menyisipkan teknik kerajinan tangan yang amat dikuasainya, seperti teknik sulam dan rajut. Sebagai contoh, kristal Swarovski, manik-manik, atau batu-batuan yang ukurannya mungil, yang kadang dalam ukuran milimeter, dijahit satu per satu. Begitu detail. Belum lagi, Nancy sering menggunakan bahan baku langka dari berbagai negara. Misalnya, gading mammoth dari Siberia, kulit burung unta dari Afrika, kulit ikan dari Iceland, kulit buaya dari Amerika Selatan, bulu domba, hingga mutiara. Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa satu tas memakan waktu pengerjaan rata-rata dua minggu.

Supaya ekskusif, PT Metamorfosa Abadi hanya memroduksi 299 buah tas, dengan dua sampai tiga warna, untuk tiap jenis. Bahkan, untuk beberapa jenis, Nancy sengaja memproduksi hanya tiga buah, untuk seluruh pasar global. Per bulan, workshop tas mahal yang berada di Jakarta Barat ini memiliki kapasitas produksi hingga 1.000  buah. Delapan dari sepuluh tas diekspor ke luar negeri, sedangkan sisanya untuk pasar Indonesia. Di negeri ini, Nancy memasok 100 tas pe bulan. Kini, Bagteria telah tersedia di puluhan butik pilihan di 30 negara, di antaranya Italia, Perancis, Inggris, AS, Jepang, dan Kuwait. Di Indonesia, Bagteria hadir di Grand Indonesia dan Plaza Indonesia. (Ari Windyaningrum, Majalah DUIT No. 09/IV/September 2009)

 

AddThis Social Bookmark Button
Last Updated on Monday, 05 March 2012 13:30
 

Comments  

 
0 #1 Ahli SEO 2014-08-02 21:33
Hi there to every one, it's genuinely a good for me to go to see this
web page, it consists of valuable Information.
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Iklan Anda

Calendar Clock

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Powered By therelax.com

JComments Latest

RSS

Twitter Show

Easy Amazon Associates

Vip Amazon Associates